Strawberry
“Bu, Ayu berangkat!”
“Jangan lupa ya, yu. Pulangnya harus lebih awal, Ibu harus
membantu Ayah mengantarkan kotak stroberi ini kerumah pelanggan bos Ayah. Jadi
kamu harus jaga rumah. Mau lebaran, jadi pesanan banyak”
“Tapi Ayu udah janji mau nyari bahan buat tugas Bahasa
Inggris, Bu. Nggak enak sama mereka”
“Kali ini aja, Yu. Rumah kita kotor sekali, nak. Banyak
rumput liar di halaman, lantai juga sudah berdebu. Bulan Ramadhan membantu
orang tua itu berpahala besar loh..”
“Iya deh, bu. InsyaAllah”
“Oh ya bu, apakah kali ini ada sisa untukku? Aku benar-benar
ingin mengetahuinya, bu.”
“Maaf anakku, semuanya sudah pas. Nggak ada yang tersisa.
Kamu tidak perlu mencicipinya, nak. Tapi rasakanlah manfaat besar yang didapat.
Ayo, cepat. Nanti terlambat sekolahnya”
Namaku Ayu, seorang gadis sederhana yang hidup sederhana.
Ayahku bekerja di pabrik stroberi. Iya, STROBERI. Mungkin satu-satunya buah
yang belum pernah aku cicip seumur hidupku. Memang, berkat stroberi ayahku
berpenghasilan, bisa menyekolahkan anak semata wayangnya ini, dan ibu bisa
membuka kursus menjahit sendiri. Tapi, jangankan mencicipinya, menyentuh buah
merah, kecil, imut, dengan bebijian di kulit luarnya itu saja pun ibu tak tega.
Daripada untuk sekedar cemilan, lebih baik kita jual. Satu buah stroberi bisa
kita jadikan jus dan dijual dengan harga yang lumayan, cukup tambahkan air dan
gula saja yang banyak, jelas ibu.
Stroberi mungkin sudah menjadi “dewa pembawa berkah”
dirumahku, maka tak ada satupun dirumahku yang berani menggigit ataupun
menyentuh buah istimewa itu. Ayahpun tak berani memegangnya dengan tangan
hampa, harus menggunakan sarung tangan khusus untuk menjaga stroberi supaya
tetap dalam keadaan baik di tangan konsumen. Tapi, air liurku tak bisa tertahan
ketika melihat buah istimewa itu.
Hari ini hari terakhirku sekolah di bulan ramadhan
“Yu, jadi nggak?”
“Maaf, Tir. Aku gak bisa. Pesanan bos Ayahku banyak, ibu
bantu nganterin paketnya ke pelanggan. Mau lebaran, tugasku beres beres rumah.”
“Tapi, Yu. Tugas kelompok ini harus selesai ketika hari
pertama belajar setelah lebaran. Aku mau pulang kampung, Nindy juga. Kamu yang
mahir membuat naskah story telling ini. Ntar kalau sudah selesai, kita tinggal
mengahapal nya saja.’
“Iya, Yu. Cuma kamu harapan kami. Aku nggak ngerti Bahasa
Inggris. Nanti kita buka puasa bareng dirumahku. Pesanan Mama juga udah diantar
dengan Ibumu, Yu”
“hah? Ibuku?”
“iya. Mama kan pesan 5 kotak stroberi dengan Ibumu. 3 kotak
nya untuk buat kue lebaran, 2 kotaknya untuk buat sup buah. Kita berbuka dengan
itu. Ayo Yu, apa kamu tak ingin melewatkan kesempatan mencicipi buah dewa besar
dirumahmu ini?”
Berbuka
puasa dengan STROBERI!! Ya ampun, Cuma orang gila yang nolak kesempatan ini.
Tapi aku benar-benar gila, gila dibuat Ibuku, gila dengan semua janjiku kepadanya,
gila pahala Ramadhan dan gila dosa.
“Sorry Nin, Tir. I can’t do this. Aku udah janji dengan
ibuku. Aku yakin kalian pasti bisa. Kalian gak akan mampu kalau gak mencoba. Jangan mengandalkan
aku terus. Maaf ya.. aku pulang duluan” dengan penuh senyum palsu aku menyesali
perkataanku yang barusan aku ucapkan. Tapi, yah. Apa boleh buat. Ini sudah
kewajibanku sebagai seorang anak.
***
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam. Ibu? Kok cepet pulang? Ayu aja belum
sempet masak buat buka puasa”
“Aduh, yang mana dulu ni pertanyaan yang ibu jawab? Biasalah
Ayahmu. Suka lupa kalau jumlahin paket. Stroberinya berlebih 2 kotak, kata bos
Ayah diambil aja untuk buka puasa kita, nak. Bos Ayah baik ya nak, walaupun
nonmuslim tapi beliau nggak pelit dengan kita”
“Jadi Bu, stroberi ini bisa Ayu makan?”
“Iya nak. Mandi lah sekarang, Ayahmu lagi di jalan. Biar Ibu
saja yang buat teh manis panas dengan ubi gorengnya ya”
Oh, stroberi. Bersiaplah masuk kedalam mulutku!
***
Allahu Akbar Allahu Akbar..
Tanpa berfikir panjang namun
tetap ingat membaca basmalah, tanganku refleks mengambil sebuah stroberi yang
masih didalam kotak transparan itu. Kuambil yang paling besar dianara semuanya.
Seakan tak percaya, aku sudah MEMEGANGNYA!! Air mataku pun tak terasa telah
membendung. Dengan penuh keyakinan, otakku bersiap menyimpan segala memori
tentang rasa buah cantik ini. Kuayun tanganku perlahan kemulutku, dan ketika
gigiku telah menggigit stroberi itu, sambil menjulur lidahku, otakku langsung
menerima rangsangan dan “Aaaaahhhhh….!!”
“Kenapa nak?”
Seketika kulempar buah itu jauh
keujung dapur
“Asseeemmm, buu…!!! Ayu gak mau
lagi!”
“Ya ampun, Yu. Buah stroberi
memang rasanya asem, kamu kan memang gak suka asem. Makanya dari dulu Ibu
melarangmu menyicip buah itu, karena saying, daripada mubazir, enak dijual
saja. Betul kan, Yah?”
Ayah hanya tersenyum melihat Ibu,
dan kembali menolehku dengan tatapan mengejek. Tak kusangka, ternyata apa yang
selama ini aku kagumi dan aku puja, belum tentu baik didalamnya. Aku harus berhati-hati
kali ini. Dan aku sekarang telah terkena Strawberry Trauma Syndrome.
Wish... Rengke.. ^^
BalasHapusMokasih, Ivo :)
BalasHapus