Setelah
midtest, aku segera meluncur ke mantan SMA ku. Setelah menggunakan bus KPN,
dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota untuk menuju kesana. Ketika aku
turun, aku langsung disambut dengan sosok yang sangat sering kujumpai. Dengan
seragam merah-hijau, topi lebar dan senjata kesayangannya, beliau tersenyum
kepadaku, “baru pulang dek?” Dengan lembut kujawab,”Iya ibu, maaf saya duluan
ya”
Aku
langsung menyebrangi jalan yang cukup ramai itu, kemudian melanjutkan
perjalanan dengan langkahku sendiri. Sesampai di bundaran, mataku langsung
tertuju pada seseorang. Beliau juga berseragam yang sama seperti sosoj yang
kutemui terlebih dahulu ketika turun dari angkot, tapi kali ini ia lebih
ekstrim. Sambil membawa dua senjata nya, ia tak segan berdiri di tengah jalan
ketika lampu tiga sedang menyalakan warna merah. Siapa mereka?
Ya,
petugas kebersihan. Mungkin sebagian atau mungkin semua dari kita tidak terlalu
memperhatikan mereka. Apa sebenarnya yang mereka kejar? Uang? Ya! Hanya uang.
Dengan usia yang sudah separuh baya, dari terbit fajar hingga bulan menempati
posisi singgasana matahari mereka bekerja tanpa malu sedikitpun. Mereka tidak
mementingkan lagi martabat mereka, bahkan KESELAMATAN JIWA MEREKA SEKALIPUN.
Coba bayangkan, dari pagi buta mereka hanya sibuk berkutat pada sapu dan
serokan sampah, membersihkan seluruh bagian dari kota. Jalanan, jembatan, taman
kota, bahkan mungkin halaman rumah kita yang tak sengaja tersapu oleh
senjatanya. BAHKAN, DITENGAH JALAN KETIKA LAMPU LALU LINTAS BERWARNA MERAH
SEKALIPUN. Jika aku boleh berfikir jelek, bagaimana jika ada pengguna jalan
yang “buta warna” akan lampu tiga tersebut? Bagaimana jika ada pengendara yang
mengalami masalah pada rem kendaraannya? Bagaimana jika lampu tiga itu berubah
mnejadi hijau, dan beliau tidak kuasa berlari menepi sementara pengguna jalan
raya terburu-buru untuk segera melaju kecepatannya?
Mungkin
kata-kataku sedikit “lebay”, “alay”, atau semacamnya. Tapi ini sungguh sangat
ironis. Kembali timbul pertanyaan di benakku. Apa mereka tidak punya anak ataupun
keluarga yang bisa memenuhi kebutuhannya tanpa harus “mengais sampah” seperti
ini? Bagaimana cara makan mereka dengan tangan yang penuh dengan debu dan
kotoran seperti itu? Bahkan dengan bekerja sehari semalam, bagaimana dengan
kesehatannya? Provinsi Jambi memang sudah “langganan” mendapat penghargaan
lingkungan berupa adipura dan sebagainya. Tapi yakinkah kalian, jika
penghargaan itu murni dari masyarakatnya yang (katanya) sadar akan lingkungan?
Kurasa, hanya pejuang kebersihan itulah yang patut menjawab dengan jujurnya.
Setelah
membaca ini, masih adakah kalian yang mau MEMBUANG SAMPAH DENGAN ENAKNYA DI
JALAN RAYA ATAU DIMANAPUN KALIAN BERADA??
