Kamis, 22 November 2012

Ketika Keselamatan Tak Lagi Berharga


Setelah midtest, aku segera meluncur ke mantan SMA ku. Setelah menggunakan bus KPN, dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota untuk menuju kesana. Ketika aku turun, aku langsung disambut dengan sosok yang sangat sering kujumpai. Dengan seragam merah-hijau, topi lebar dan senjata kesayangannya, beliau tersenyum kepadaku, “baru pulang dek?” Dengan lembut kujawab,”Iya ibu, maaf saya duluan ya”

Aku langsung menyebrangi jalan yang cukup ramai itu, kemudian melanjutkan perjalanan dengan langkahku sendiri. Sesampai di bundaran, mataku langsung tertuju pada seseorang. Beliau juga berseragam yang sama seperti sosoj yang kutemui terlebih dahulu ketika turun dari angkot, tapi kali ini ia lebih ekstrim. Sambil membawa dua senjata nya, ia tak segan berdiri di tengah jalan ketika lampu tiga sedang menyalakan warna merah. Siapa mereka?

Ya, petugas kebersihan. Mungkin sebagian atau mungkin semua dari kita tidak terlalu memperhatikan mereka. Apa sebenarnya yang mereka kejar? Uang? Ya! Hanya uang. Dengan usia yang sudah separuh baya, dari terbit fajar hingga bulan menempati posisi singgasana matahari mereka bekerja tanpa malu sedikitpun. Mereka tidak mementingkan lagi martabat mereka, bahkan KESELAMATAN JIWA MEREKA SEKALIPUN. Coba bayangkan, dari pagi buta mereka hanya sibuk berkutat pada sapu dan serokan sampah, membersihkan seluruh bagian dari kota. Jalanan, jembatan, taman kota, bahkan mungkin halaman rumah kita yang tak sengaja tersapu oleh senjatanya. BAHKAN, DITENGAH JALAN KETIKA LAMPU LALU LINTAS BERWARNA MERAH SEKALIPUN. Jika aku boleh berfikir jelek, bagaimana jika ada pengguna jalan yang “buta warna” akan lampu tiga tersebut? Bagaimana jika ada pengendara yang mengalami masalah pada rem kendaraannya? Bagaimana jika lampu tiga itu berubah mnejadi hijau, dan beliau tidak kuasa berlari menepi sementara pengguna jalan raya terburu-buru untuk segera melaju kecepatannya?

Mungkin kata-kataku sedikit “lebay”, “alay”, atau semacamnya. Tapi ini sungguh sangat ironis. Kembali timbul pertanyaan di benakku. Apa mereka tidak punya anak ataupun keluarga yang bisa memenuhi kebutuhannya tanpa harus “mengais sampah” seperti ini? Bagaimana cara makan mereka dengan tangan yang penuh dengan debu dan kotoran seperti itu? Bahkan dengan bekerja sehari semalam, bagaimana dengan kesehatannya? Provinsi Jambi memang sudah “langganan” mendapat penghargaan lingkungan berupa adipura dan sebagainya. Tapi yakinkah kalian, jika penghargaan itu murni dari masyarakatnya yang (katanya) sadar akan lingkungan? Kurasa, hanya pejuang kebersihan itulah yang patut menjawab dengan jujurnya.

Setelah membaca ini, masih adakah kalian yang mau MEMBUANG SAMPAH DENGAN ENAKNYA DI JALAN RAYA ATAU DIMANAPUN KALIAN BERADA??


Tidak ada komentar:

Posting Komentar